PECUNDANG

Suku-suku yang memiliki Budaya, Tanah Adat dan Danau sendiri adalah mereka yang paling beruntung di muka bumi. Sebab tidak banyak komunal- komunal serupa di luar sana mereka tidak memiliki tanah dan air untuk melestarikan budaya nya.

Suku-suku yang tidak mampu mempertahankan budaya mereka dari kikisan budaya-budaya luar pun dalam negeri adalah mereka - mereka yang pantas dikatakan sebagai "PECUNDANG". 

Mereka lebih senang menari-nari diatas kebodohannya dengan menyetel Musik-musik DJ, berpakaian kebarat-baratan, dan tidak melestarikan keindahan alam mereka. Dan itu adalah sebuah manifestasi dari ketidak pedulian terhadap budaya leluhurnya. Jelas Kita Bangso Batak Toba dan Simalungun harus belajar ke tanah Timur dimana disana mereka masih mempertahankan Budaya serta tanah adat mereka bahkan mereka berjuang memperjuangkan kelestarian Hutannya.

Masyarakat suku suatu bangsa dari tanah Utara Pulau Sumatera salah dua diantaranya adalah suku bangso Batak Toba pun Simalungun harus mampu mempertahankan dan  memperkenalkan budaya yang nyatanya juga Kompleks kepada wisatawan secara universal. Mulai dari memperkenalkan  pakaian-pakaian yang sarat akan nilai-nilai dari budaya bangso Batak juga Simalungun maupun dengan menyetel Musik-musik berbahasa daerah dari suku tersebut di berbagai tempat wisata wisata Lokal berstandard nasional maupun internasional. Bukan dengan ikut menanam dan menumbuh kembangan budaya budaya para wisatawan baik dalam maupun luar namun membungkus budaya leluhur untuk diletakkan di tanam pada kebon belakang rumah. 

Jika seluruh masyarakat Bangso Batak dan Simalungun mampu memanifestasikan  kecintaannya terhadap Budaya nya maka tidak perlu membutuhkan waktu bertahun tahun cukup dua tahun dapat di pastikan bahwa budaya dan bahasa dari suku yang memiliki destinasi kepingan syurga akan mampu menasional bahkan mendunia. 

Hanya butuh komitmen dalam berjuang MELAWAN pada budaya budaya yang ingin menjadi Tuan diatas budaya Pemilik asli dari suatu Tanah dan Air .

Semakin luas sebaran keindahan suatu budaya dan Tanah air maka semakin besar gelombang turis yang menjelajahi potensi-potensi yang ada baik sekedar menikmati maupun mencoba mengeksploitasinya. Sehingga dibutuhkan distrik-distrik pertahanan untuk merawat dan meremajakan berbagai jenis tetumbuhan, menjaga berbagai satwa penghuni maupun pendatang dan dan menghindari biota air dari pencemaran berupa sampah atau limbah pra turis yang tidak memiliki kesadaran akan kelestarian Alam.

Sehingga kesemuaan itu harus dibarengi dengan pembangunan kesadaran pada berbagai titik di desa-desa atas pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan kelestarian alam melalui pembangunan-pembangunan sanggar sebagai sentral penyebarluasan prosedur penyeimbangan alam sehingga terjadi kestabilan dan kelestarian kehidupan untuk berbagai jenis satwa asli tanah Bangso Batak Toba dan Simalungun serta pendirian perpustakaan sebagai lumbung kekuatan yang akan didistribusikan kepada anak-anak yang dimasa depan akan menjadi ujung tombak pelestarian budaya dan adat serta pelestarian ekosistem kehidupan baik Satwa maupun Biota yang hidup berkesinambungan diatas Tanah pun dalam air di  tanah Bangso Batak Toba atau Simalungun.

Sebab tuhan menciptakan Tanah Batak Dengan menggunakan secuil keindahan Syurga sebagai komponen utama pembentuk tanah Indah itu..

Komentar